From: assistant@responsecenters.org
Date: Fri, 23 Oct 2009 11:00:46 -0500 (CDT)
Subject: RE: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Re: Fwd: Re: Re: R
To: samsoelbahri3@gmail.com
Anda tidak pernah menjawab hal kontradiksi yang saya pertanyakan dalam
Quran, sebaliknya anda mengajukan pertanyaan mengenai Alkitab Apakah
anda menerima kesalahan Quran itu dan pertentangannya satu sama lain,
atau yang bertentangan dengan Science?). Perlu anda ketahui, bahwa
Raja-Raja, Samuel, Tawarich yang anda sebutkan bukanlah Injil, Injil
adalah Matius, Markus, Lukas dan Johanes.
Ayat2 yang anda sebutkan dalam Perjanjian Lama (Taurat), dari Tawarich
dan Samuel ditulis oleh dua orang pengarang berbeda, Tawarich oleh
Ezra dan Samuel oleh Nabi Samuel. Jadi dalam penulisan itu, mereka
melihat dari visi mereka, sedangkan faktanya adalah sama.'
Suitan Allah apakah penting? Dalam penjelasan Alkitab, Suitan Allah
adalah diibaratkan suara lebah yang keluar dari sarangnya.
Mengenai Jeremia 7:12 yang anda katakan Allah mencukur diriNya,
AYATNYA TIDAK SESUAI DENGAN YANG ANDA SEBUTKAN:
yEREMIA 7:12) Tetapi baiklah pergi dahulu ke tempat-Ku yang di Silo
itu, di mana Aku membuat nama-Ku diam dahulu, dan lihatlah apa yang
telah Kulakukan kepadanya karena kejahatan umat-Ku Israel!
Mengenai pembunuhan 50000 orang karena melanggar melihat Tabut Allah
(1 Samuel 6:19), itu adalah Hak Allah dan itulah yang terulis dalam
Alkitab, bagaimana pula dengan Tsunami di-Aceh, dimana lebih dari
600.000 ribu jiwa mati dan hilang?
Injil Johanes 3:13, Ya, Pribadi yang telah berada disurga sebelumnya
dan turun dari Surga adalah Anak Manusia, tidak ada orang lain yang
seperti Dia, karena Dia adalah Allah yang menjadi manusia untuk
menyelamatkan Dunia.
Apakah cukup penjelasan saya, dan bagaimana dengan pertanyaan saya
mengenai kontradiksi ayat2 dalam Quran dan perbedaannya dengan Science
sebagai satu2 nya fakta kebenaran? Nggak bisa dijawabkan??!
Muhamad dengan Juwariyah
Sumber:
Faith Freedom Indonesia
JUWAIRIYAH / JUWAYRIYYAH
oleh Ali Sina
Dalam sejarah bangsa Arab masa pra-Islam, belum pernah ada pergolakan
dan perang yang seluas dan sedahsyat yang dilancarkan Muhamad, sang
pendiri Islam. Pertempuran sebelumnya hanya merupakan pertempuran
lokal yang terbatas pada percekcokan antar suku. Dengan lahirnya
Islam, tidak hanya perang tetapi GENOCIDE dan TEROR tidak habis2nya
menjadi komponen integral dalam sejarah ekspansionisme Islam.
Pada awal karir Muhamad sebagai nabi, kota asalnya (Mekah) adalah kota
yang damai. Dalam 13 tahun ia berkotbah, hanya sekitar 70/80 orang
mengikuti ajarannya. Tidak semuanya jago perang. Ini menjelaskan
sejarah awal penyebaran Islam yang damai. Muslim belum mempunyai
kekuatan untuk menyerang. Namun setelah Muhamad bermigrasi ke Medinah
dan penduduknya menerima ajarannya, ia memulai perampokan karavan
pedagang dan penyerbuan kampung-kampung penduduk untuk bertahan hidup,
selain menghidupi pengikutnya yang sulit mencari pekerjaan di Medinah.
Tahun ke 5 hijrah di Medinah merupakan tahun menentukan. Ini tahun
dimana Muslim berperang melawan penduduk Mekah dan mengepung
perkampungan Yahudi, Bani Qaynuqa, yang terkenal dengan penduduknya
yang kaya, yang pengrajin emas dan besi. Setelah merebut rumah dan
ladang anggur mereka, mereka diusir dari kediaman mereka. Setelah itu
ia menyerang kantung Yahudi lainnya, Bani Nadir. Hal yang sama terjadi
pada mereka. Muhamad membunuh pemimpin suku dan banyak pemudanya,
merampas harta mereka dan kemudian mengusir mereka dari Medinah. Dalam
dua penyerbuan tersebut, suku Yahudi tidak memberikan sedikitpun
perlawanan. Mereka diserbu secara tiba-tiba, dan mau tidak mau harus
menyerah kepada pasukan Muhamad yang lebih kuat.
Mabuk kemenangan atas orang-orang tak berdaya, Muhamad berniat
mengulanginya dengan suku Yahudi lain diluar Medina, kali ini giliran
Bani al-Mustaliq.
BUKHARI, biografer Muhamad, mengisahkan penyerbuan tersebut dalam
hadis dibawah ini. Diriwayahkan Ibn Aun:
"Saya menulis surat pada Nafi dan Nafi menceritakan bahwa nabi secara
tiba-tiba menyerbu Bani Mustaliq ketika mereka lengah, ketika mereka
sedang memberi minum ternak mereka. Mereka yang melawan dibunuh. Nabi
mendapatkan Juwairiya pada hari itu."
Hadis ini dicatat kembali dalam Sahih Muslim Buku 019, Nomor 4292,
yang memperkuat otentisitas hadis dan peristiwa tersebut.
Muhamad mengirim salah satu pengikutnya, Bareeda bin Haseeb, untuk
mematai-matai Bani al-Mustaliq dan memberitahukannya jika keadaan
menguntungkan.
Petikan dari salah satu situs Islam:
Kedatangan pasukan Muslim membuat panik Haris, ia dan pengikutnya
melarikan diri. Meskipun begitu penduduk Muraisa mencoba mati-matian
mempertahankan diri. Muslim menyerang secara tiba2. Banyak korban jiwa
melayang dan lebih dari 600 orang ditawan. Hasil rampasan mencakup
2000 onta dan 5000 kambing.
Diantara tawanan perang, terdapat Barra, anak dari Haris, yang
kemudian dinamai nabi Hazrat Juwairiyah, atau istri nabi yang mulia.
Dalam prakteknya, harta rampasan dan tawanan dibagikan antara pasukan
muslim. Hazrat Juwairiyah dimiliki oleh Thabit bin Qais. Karena wanita
ini adalah anak pemimpin suku dan terlalu hina untuk menjadi budak
seorang prajurit muslim, maka ia meminta untuk dibebaskan dengan
tembusan uang.
Thabit menyetujuinya jika ia memunyai 9 keping emas, namun karena
Hazrat Juwairiyah tidak punya apa2 (hartanya telah dirampok), ia pergi
menghadap Muhamad untuk meminta bantuan agar diselamatkan dari
penghinaan ini. "Saya memohon anda agar melakukan satu tindakan
berdasarkan belas kasihan dan menyelamatkan saya dari hinaan ini."
HATI NABI MENJADI TERGERAK dan berkata apakah ia ingin hal yang lebih
baik. Juwariyah bertanya apa maksudnya. Nabi berkata bahwa ia akan
membayar uang tersebut pada Thabit dan meminta Juwairiah menjadi
istrinya. Hazrat Juwairiyah kemudian menyetujuinya."
Kisah tersebut menceritakan pernikahan nabi dengan Juwariah. Yang
menarik, Muhamad membuat Allah berkata bahwa ia "mempunyai budi
pekerti agung " (Q 68:4)." dan "suri teladan yang baik" (Q 33:21).
Pertanyaannya adalah, benarkah ini?
Pertama, ia menyerang penduduk tanpa peringatan karena mereka sasaran
yang mudah dan kaya. Seperti biasa, ia membunuh semua pemuda yang
sehat yang tak bersenjata, merampas harta benda dan memperbudak
sisanya. Apakah ini perbuatan Nabi Tuhan?
Praktek tawanan perang, perbudakan dan pembagian harta perang antara
pasukan Muslim ini adalah pola prilaku para Mujahidin selama sejarah
berdarah Islam. Pertanyaan saya tetap sama, INIKAH PRILAKU SEORANG
NABI TUHAN ? Allah malah mengatakan bahwa ia adalah "rahmatul alamin",
alias rahmat bagi alam semesta". Pemimpin otoriter dan penjahat biadab
namun RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA ????
Kalau ini memang praktek umum kaum jahiliyah, apakah Nabi Rahmatul
Alamin ini tidak dapat mengubahnya? Kenapa ia terlibat dengan
peristiwa MAHA BIADAB ini? Apakah ia hanya mengikuti kebiasaan saat
itu atau IA-LAH YANG MEMBERI CONTOH BURUK INI KEPADA PENGIKUTNYA ?
Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMAD TIDAK TERGERAK oleh belas kasihan,
namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah karena kasihan.
Ia menginginkan Juwariah untuk dirinya. Ini adalah contoh seorang pria
yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.
Cerita selanjutnya tentang Juwairiyah penuh dengan isapan jempol dan
cerita yang dilebih-lebihkan yang banyak mewarnai Hadis.
Diceritakan bahwa nabi setelah peristiwa penyerbuan itu, bertolak
kembali ke Medinah dan menyerahkan Juwairiah dalam pengawasan
pengikutnya. Ayahnya menyadari bahwa anaknya ditawan, bergegas membawa
tebusan, namun di tengah jalan menyembunyikan 2 untanya di jalan dekat
al-Aqia. Ia datang kepada nabi lalu berkata, "anakku terlalu terhormat
untuk dijadikan tawanan, bebaskanlah dia dengan tebusan ini" Nabi
berkata, "Bagaimana jika ia kita suruh pilih sendiri?" lalu ia datang
menemui anaknya lalu berkata, "Ia menyuruhmu memilih, jangan jatuhkan
kehormatan kita", lalu anaknya menjawab dengan tenang, "Aku memilih
nabi". al-Harith dengan marah berkata, "Ini suatu penghinaan!."
Lalu nabi berkata,"dimanakah unta yang kau sembunyikan di jalan ini
sebelah ini di dekat al-Aqia?" al-Harith terkejut dan berkata, "Saya
menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah
nabi Allah, tidak ada yang lain yang dapat mengetahui hal ini selain
Allah"
Ibn-i-S'ad dalam 'Tabaqat', menceritakan bahwa setelah ayah Juwariyah
memberikan tebusan dan membebaskannya, nabi menikahinya, dan semua
tawanan dibebaskan oleh prajurit muslim, karena mereka tidak suka
melihat anggota keluarga orang dari istri nabi, dijadikan budak.
Sulit menilai kebenaran cerita ini. Di satu sisi diceritakan bahwa
Muhamad membayar tebusannya pada Thabit, sedangkan yang lain
menceritakan bahwa ayahnyalah yang membayar tebusannya. Juga
diceritakan tentang kemampuan Muhamad untuk menebak masa depan,
seperti yang terjadi dengan unta yang disembunyikan. Ini membuat sulit
dipercaya, karena pada banyak kesempatan lain, Muhamad sering
menunjukkan hal sebaliknya. Misalnya, sering ia harus menyiksa
seseorang sampai hampir mati dahulu untuk mengetahui dimana harta kota
disembunyikan.
Dalam cerita ini pun masyarakat Arab menunjukkan tingkatan moral yang
lebih tinggi dari sang nabi dengan secara sukarela membebaskan tawanan
mereka setelah mendengar Muhamad menikahi putri kepala sukunya.
Muslimpun menyatakan bahwa Juwairiyah menjadi penganut yang taat dan
seringkali menghabiskan waktu seharian untuk bersholat. Penulis dalam
Usud-ul-Ghaba menyatakan bahwa ketika nabi mendatangi Juwairiyah
sering ia mendapatinya sedang bersholat dan ketika ia kembali pun
Juwairiyah masih bersholat, sampai akhirnya nabi pun berkata, "Kamu
lebih banyak bersholat sehingga membuat timbangan menjadi lebih berat
ke satu sisi."
Mari kita melihat kisah ini secara lebih realistis. Bayangkan anda
dalam posisi Juwairiyah, wanita muda yang jatuh ke tangan pembunuh
suami yang juga sepupunya, dan pembunuh massal rakyat sukunya. Tanpa
pegangan hidup lain dan tak ada jalan untuk melarikan diri, opsinya
hanya menyerah dan menjadi budak seks seseorang yang menjadi pemimpin
penyerang sukunya. Juwairiyah terpaksa memilih opsi ini dan mencoba
bertahan. Tak heran ia selalu didapati Muhamad dalam keadaan sibuk
bersholat dengan harapan ia akan meninggalkannya sendiri dan mendapat
kesenangan dari istrinya yang lain.
--
$äm$øé£
Tidak ada komentar:
Posting Komentar